Kemiskinan

Standar

Layak Huni

Layak Huni

Kehidupan masyarakat dalam kemiskinan dan keterbelakangan (Poverty Stricken and Disadvantage) harus dilihat secara utuh akar permasalahannya. Dilihat dari aspek kebijakan ekonomi nasional/ daerah, iklim politik, maupun aspek sosio kultur terkait budaya pikir dan etos kerja, yang antara satu dan lainnya saling mempengaruhi, dan terkait erat dengan kinerja organisasi birokrasi.

Fenomena sosial ekonomi dari adanya kelompok masyarakat miskin di daerah pedesaan maupun perkotaan adalah akibat belum terbukanya akses pada sumber daya pembangunan dan pelayanan dasar (basic services), dan pada pengambilan keputusan tentang penggunaan sumber daya. Sebagai kebutuhan dalam kegiatan ekonomi untuk peningkatan taraf hidup. Sementara terdapat kerakusan penguasaan sumberdaya oleh segelintir kelompok masyarakat yang didukung sistem politik. Indikatornya adalah tingginya disparitas pendapatan nasional (Income Disparity) yang menunjukan tidak meratanya distribusi penguasaan/ pengelolaan sumberdaya.

Pada sisi lain sosio-kultur masyarakat turut pula berperan pada tumbuhnya kemiskinan. Dan secara politik masyarakat marjinal ini pun tidak memiliki sarana penyaluran aspirasi politik dalam menyalurkan aspirasinya pada proses pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan terhadap penggunaan sumberdaya pembangunan. Lembaga legislatif dalam sistem politik pragmatis yang berkembang spt saat ini tidak dapat memediasi kepentingan masyarakat miskin. Akhirnya kompleksitas masalah yang bersifat multidimensional ini akan memberi konsekuensi pada semakin bertambahnya jumlah kelompok masyarakat yang terpinggirkan dari proses pembangunan.

Secara nasional persoalan kemiskinan akan menjadi semakin kompleks karena kondisi sosial budaya masyarakat miskin pedesaan secara langsung atau tidak, telah turut mendorong tumbuhnya masyarakat miskin perkotaan akibat tidak dimilikinya akses pada basic services dan sumberdaya pembangunan . Yang memberi implikasi pada tumbuhnya tatanilai dan kebiasaan mencari jalan pintas dalam memenuhi konsumsi primer maupun sekunder untuk kebutuhan hidup dan akibat pengaruh kehidupan konsumtif dan hedonis masyarakat perkotaan, sebagai implikasi liberalisasi perdagangan. Yang akhirnya melahirkan gejala sosial perkotaan; kriminalitas dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya.

Sejauh ini upaya-upaya penanggulangan kemiskinan melalui berbagai program bantuan ekonomi, pemberian kredit lunak dan bantuan langsung tunai, yang bertujuan meningkatkan penghasilan masyarakat miskin, namun ternyata hal ini tidak menyelesaikan persoalan mendasar kemiskinan. Karena persoalan mendasar adalah ketidak- berdayaan seseorang atau kelompok masyarakat dalam mengakses sumberdaya pembangunan untuk mengusahakan sebagai peluang bagi aktifitas ekonomi. Sehingga yang ditempuh selama ini melalui peningkatan pendapatan masyarakat, seolah-olah menjadi obat mujarab terhadap persoalan kemiskinan. Padahal akar kemiskinan bukanlah rendahnya penghasilan. Karena tinggi-rendahnya pendapatan merupakan konsekuensi dari tinggi-rendahnya penguasaan thdp sumberdaya untuk dijadikan sebuah peluang ekonomi.

About Irfan

Sometimes I write in my wordpress blog about the community, socio-economic, and renewable energy or anything else that I deem necessary to be submitted as my opinion as part of public expression. But all can not fully describe yet what is in my heart about fairness, honesty, concern for the marginalized groups of society that his/ their innocence exploited by a group of people who are more educated and who have power to give or influence the formulation of policy on community empowerment

2 responses »

  1. sistem dalam menjalankan suatu negara yang tidak berani melindungi individu yang intelektual dan jujur yang dapat mengakibatkan keterlambatan bahkan menghambat proses pembelaan terhadap kemiskinan dapat porsi yang signifikan dalam pemberantasan kemiskinan ini. Kaum yang kaya telah menancapkan posisi kenyamanan mereka di atas segalanya dan menutup ideologi pemberantasan kemiskinan. Rakyat hanya menjadi sebuah media politik dan sandera kekuasaan yang pada akhirnya memang berujung pada kebutuhan ekonomi. rakyat memang butuh makan,rumah,uang,dan kebutuhan pokok lainnya, tetapi mereka tidak hanya ingin memenuhi ‘kebutuhan’ saja, melainkan ‘kelayakan’ dalam memperoleh “kesempatan” yang selama ini tertunda bahkan ditunda. tetapi memang ada kaum yang merasa takut terhadap pemberian kesempatan tersebut yang berpotensi pada perlawanan karena merasa ketertinggalan budaya dengan kuantitas rakyat yang besar dapat menjatuhkan kuasa. yang jelas, kaum kaya akan lebih suka dengan cara ‘menarik’ agar tetap berada satu langkah lebih daripada mundur sedikit untuk ‘mendorong’..
    terima kasih telah mencurahkan pemikiran anda pada tulisan yang luar biasa ini. anda sebaiknya mulai menulis buku..hehe.

    • tks banyak dan mari kita bangun aliansi strategis utk hal2 yg perlu dan hanya bisa diselesaikan secara bersama/ kolektif dgn tdk mengedepankan kepentingan2 pribadi…ayo kakwan2 kita bangun komunikasi dan forum diawalnya, dan tks atas perhatian dan tanggapannya yg dpt jadi bahan bagi formulasi lebih lanjut fenomena penurunan tingkat kemiskinan (poverty reduction) secara multi dimensi dgn menjujung tinggi objektifitas, tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s