Biodiversity dan Budaya Kerja

Standar

Biodiversity Biodiversity

Keanekaragaman hayati (biodiversity) ternyata menjadi topik yang mendominasi kegiatan penelitian peneliti asing di Indonesia. Oleh karena itu, Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) pada Rabu (7/11/2008) menyelenggarakan workshop yang mengambil tema khusus Daya Tarik dan Arti Strategis Riset Bidang Keanekaragaman Hayati Indonesia.

Dari data yang tercatat di Sub Bagian Administrasi Peneliti Asing BKPI-LIPI, dalam lima tahun terakhir (April 2000-Desember 2006) tercatat 1.282 peneliti asing yang memperoleh izin penelitian dari LIPI. ”Mereka sebagian besar berasal dari negara-negara maju, yaitu Jepang 370 orang, AS 225 orang, Belanda 121 orang, Inggris 93 orang, dan Jerman 74 orang.

Pertanyaannya mengapa begitu berminatnya peneliti asing, itu karena begitu dikembangkan dan berkembangnya Genetic Engineering di negara mereka dalam rangka pengembangan renewable resources baik untuk pangan, energi dan industri kimia. Bagaimana perkembangan rekayasa bioteknologi kita ….”apakah hanya gonjang-ganjing politik yang marak saat ini, atau berita-berita selebritis, infotainment, dunia entertainment dan yang sejenisnya, dan hal-hal ringan seperti maraknya facebook sampai perlu ditanggapi oleh MUI. Apakah hal itu saja yang lebih diminati publik termasuk para peneliti, scientist, para birokrat maupun teknokrat kita, sehingga pantas pula bila PM Jepang beberapa tahun lalu mengatakan;”masyarakat dan pemerintah Indonesia sama-sama tidak memiliki visi masa depan” (….santai coi, eh emang gue pikirin). Gejala apa ini, bukankah sebuah penelitian itu penting sebagai bahan “innovation for our future” dalam kerangka kerja pembaruan untuk kemajuan dan daya saing bangsa”. Atau memang masih rendahnya budaya kerja inovasi dalam tata nilai bersama kita. Mudah2an pada generasi berikutnya akan terjadi perubahan pembaruan tatanilai. Namun hal ini perlu dicermati karena generasi peneruspun dapat melanjutkan tatanilai yang sama bila tidak ada gerakan pembaruan yang progressive kearah ini… apakah ini dipahami dari pandangan antropologi budaya karena kita berasal dari keturunan masyarakat agraris berbasis budaya siklus waktu terutama didaerah tropis dengan hanya 2 waktu, musim hujan dan kemarau jadi lebih lamban. Dan mungkin kita belum sepenuhnya masuk dalam masyarakat industri yang berbasis anak panah.

Seperti dikutip dari SK Merdeka, 7 Januari 2008;.. ternyata yang berkutat di Sektor Industri berbasis budaya “anak panah”, sedangkan masyarakat Indonesia bermuatan sektor pertanian yang berbasis budaya “siklus waktu”. (Lawrence E. Joseph, ISBN 978-979-22-4055-9); Siklus Waktu mengacu pada kontinum abadi, seperti siang dan malam, musim dingin, musim semi, musim panas, musim gugur, pasang surut Bulan. Dimana masyarakat barat kontemporer pascaindustri menekankan laju waktu yang seperti “Anak Panah”, berlalu lebih cepat dan semakin cepat, berkedip dan berbunyi di jam, oven microwave, dan pintu putar. Kesukaan terhadap Anak Panah mengungkapkan orientasi masyarakat terhadap perubahan dan kemajuan yang progressive, walaupun terkadang hingga mencapai titik pengabaian nilai2 abadi dan kekal. Ketidakseimbangan ini mungkin saja dampak pergeseran dari ekonomi berbasis agrarian, yang sangat bergantung pada Siklus Musim, menuju ekonomi produksi industri dan informasi yang tidak terlalu tergantung pada irama alam. Jadi jangan santi cui ..eh santai coi.

About Irfan

Sometimes I write in my wordpress blog about the community, socio-economic, and renewable energy or anything else that I deem necessary to be submitted as my opinion as part of public expression. But all can not fully describe yet what is in my heart about fairness, honesty, concern for the marginalized groups of society that his/ their innocence exploited by a group of people who are more educated and who have power to give or influence the formulation of policy on community empowerment

2 responses »

  1. http://www.forums.apakabar.ws/viewtopic.php?f=1&t=14341&start=0

    Di negara berkembang, peran penyair menjadi imbangan spiritual bagi operasi di lembaga sekuler walau kadang-kadang sang penyair menemui sikap yang tidak enak dari orang-orang di lembaga sekuler. Idealnya, adanya keseimbangan yang dinamis antara suara spiritual dan operasi sekuler. Jadi, roh dan badan sama pentingnya. Sayang, kebanyakan penyair dewasa ini, menurut Rendra, masih berada dalam alur tradisi. Mestinya, penyair memupuk dinamisme mental masyarakat. Oleh karena itu kewajiban seorang penyair untuk mengeritik semua operasi di masyarakat.

    Buku Penyair & Kritik Sosial berisi tentang motivasi yang mendorong Rendra sebagai seorang penyair untuk melancarkan protes-protes sosial di dalam sajak-sajaknya. Olah tapa seorang penyair di dalam masyarakat yang sedang membangun adalah mengolah ke-terang-an dan kewaspadaan kesadarannya sementara ia duduk di tengah keramaian pasar. Begitulah bahasa retoriknya, metaforanya. Keheningan adalah suasana firdaus atau mungkin sorga. Menurut Rendra, semua ini bukanlah tempat tinggalnya, melainkan ia selaku penyair hidup di dunia miskin akan kemungkinan.

    Dia berpendapat bahwa kesadaran akal kolektif (pendapat umum tentang kebenaran) harus dikembangkan. Akal sehat, logika, filsafat sebagai konsep untuk mendekati kebenaran secara lebih dewasa, apalagi kita berada pada negara beraneka budaya. Kebudayaan itu harus bisa meningkatkan mutu akal sehat kolektif. Mengapa? Karena masa kini kita penuh dengan kebodohan yang diizinkan, dilindungi, dan didokumentasikan.

    Dia sendiri mengakui bahwa ia tidak suka masuk partai politik. Ia ingin tetap mengabdi kepada negara lewat seni dan budaya. Karena itulah Rendra menanggapi masalah-masalah politik selalu memakai paradigma kesenian dan kebudayaan. Semua ini dilakukannya manakala situasi politik telah mengancam “daya hidup” rakyat. Politisi telah gagal dalam menyelamatkan rakyat dari kemiskinan.

    Komitmen Rendra tetap membela ideologi — Pancasila, walaupun ia selalu dicurigai oleh pengusaha pada masa Orba. Menurutnya, penguasa telah menyelewengkan ideologi dan konstitusi. Rendra pun mengajak orang merenungkan isi Pancasila. Misalnya, sejak zaman animisme atau sebelum masuknya Hindu, bangsa kita sudah meyakini adanya sang penguasa alam yang sukar dilukiskan bentuknya. Demikian pula pada sila “persatuan Indonesia”, Rendra menggambarkan bangsa kita punya tradisi yang lancar dan kreatif, terbukti munculnya kesepakatan tentang bahasa persatuan.

    Sayang, ada sedikit kekurangfahaman Rendra dalam menelusuri “kemanusiaan yang adil dan beradab”, “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”, “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Ketiga sila ini dikatakan hal baru dalam budaya kita oleh Rendra, dengan alasan bahwa kehidupan nenek moyang kita adalah daulat alam (tidak ada hak) selanjutnya menjadi daulat tuanku, bukan daulat manusia. Daulat manusia adalah tuntutan yang sangat utama untuk kemajuan masyarakat yang dinamis yang hanya bisa dicapai bila mendapatkan hak asasi. Hukum rimba dan daulat tuanku haruslah ditinggalkan. Jadi harus ada kepastian hukum. Tolok ukurnya Rendra hanya kerajaan Mataram (II). Tentu tidak semua ketatanegaraan seperti Mataram.

    “Saya bukan ahli hukum, tetapi sebagai awam, saya beranggapan bahwa UUD’45 cukup memadai sebagai alat untuk memberi wujud kepada Pancasila, sehingga ia bisa direalisir di dalam kehidupan rakyat. Oleh karena itu, selaku pribadi atau penyair, saya juga punya komitmen kepada UUD’45 yang juga saya anggap sebagai sumber daya hidup bangsa,” tulis Rendra.

    Dari pengakuan Rendra secara jujur ini tampaknya alasan penguasa hanya dicari-cari. Penguasa tidak siap dikritik oleh rakyatnya, padahal kebebasan mengeluarkan pendapat dijamin oleh konstitusi. Justru penguasalah yang melecehkan Pancasila dan UUD’45 dengan merampas hak-hak rakyat. Mereka masih terjebak dalam nilai-nilai fiodal, agraris, dan fasistis — faham golongan nasionalis ekstrem kanan yang menganjurkan pemerintahan otoriter (menurut kamus). Menurut Rendra, semua ini adalah warisan dari tradisi kerajaan Mataram. Penguasa mengandalkan kekuatan dan kekuasaan dalam menyelesaikan persoalan sosial politik.

    Bagaimana jalan keluarnya? Kita harus mau mendengarkan suara-suara kebudayaan dan keagamaan dari dunia kita sendiri. Otensitas kebudayaan Indonesia harus tampil. Dunia politik harus berdialog agama dan kebudayaan, sosial, ekonomi, filsafat, supaya tidak pincang dan kering kalau tidak ingin muncul krisis budaya.

    Untuk menanggulanginya, agen reformasi budaya yang terpenting adalah pendidikan — membentuk manusia pembelajar sehingga muncul pikiran kreatif yang positif. Masyarakat bisa membangun dirinya sendiri. Sampai kini agen ini kurang diperhatikan sehingga mental bangsa menjadi kropos, banyak konflik. Sistem pendidikan kita kurang tepat.

    Cinta bangsa dan negara bagi Rendra tidak diragukan lagi. Rendra bisa dengan jernih tanpa emosional mengirim surat terbuka untuk Bob Geldof yang menistakan bangsa Indonesia sehubungan dengan adanya pembajakan rekaman “Live Aid”. Bob akan melarang wisatawan berkunjung ke Indonesia (Bali) gara-gara pembajakan rekaman. Mengapa Bob Geldof hanya menuding Indonesia, padahal di negara lain banyak yang melakukannya. Dalam hal ini Rendra benar-benar membela bangsa melebihi seorang pahlawan paling gagah berani sekalipun. Sebab, negara mana pun di dunia tidak ada yang menyetujui tindakan pembajakan, termasuk Indonesia.

    Terhadap Pramoedya Ananta Tour, Rendra benar-benar mengakui kebesaran karyanya. Namun, dari sisi ideologi, Pramoedya adalah seorang Maxisme yang mengakui pemusatan kekuasaan negara di tangan penguasa. Perjuangan dengan kekerasan juga disetujui oleh faham Maxis. Rendra kurang sepaham dengan Pramoedya. Rendra pun membuktikan ketika PKI dan Lekra mengganyang Manifes Kebudayaan, bahwa politik adalah panglima kehidupan bersama.

    Pada bagian akhir buku ini Rendra mengemukakan bahwa hak asasi manusia memerlukan demokrasi. Keadilan sosial memerlukan wawasan sosialisasi yang masih harus dikaji dan dirintis kembali dengan alam pikiran yang kritis dan terbuka, sebagai yang dianjurkan sastrawan dan cendekiawan Kontowijoyo. Kaum Pancasilais tidak boleh terlambat mengkaji masalah ini. Buku ini perlu dibaca oleh siapa saja, apalagi orang yang mengaku cinta kepada bangsanya.

    Rendra, Puisi, dan Kritik Sosial
    Judul : Penyair & Kritik Sosial
    Penulis : Rendra
    Penyunting : Edi Haryono
    Tebal : i-viii, 162 halaman
    IGK Tribana

  2. Kita sepaham dulu apakah untuk meningkatkan kebudayaan universal bangsa ini melalui pembelajaran sampai muncul pikiran pikiran kreatif yang positif, sehingga masyarakat bisa membangun dirinya sendiri. Kalau sepaham, maka kita juga perlu sepaham bahwa sampai kini agen reformasi budaya kita yaitu pendidikan kurang diperhatikan khususnya pada pengembangan kurikulum, kemudian banyak konflik dimana sistem pendidikan kurang melakukan pembaruan-inovasi dalam mengembangkan karakter bangsa, tetapi lebih medorong munculnya pragmatisme. Sehingga produknya tidak muncul keinginan kolektif untuk meningkatkan dayasaing bangsa.

    Sitim Pendidikan bahkan mendukung sistem kapitalistik pengaruh luar dan sebagian besar memunculkan individu-individu yang egois dan egosentris, sehingga dimilikinya banyak kaum terdidik/ pintar sebagai aset bangsa ternyata tidak memberi kontribusi dan dukungan pada usaha membangun konsensus nasional dalam membangun daya saing bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s